TUGAS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SOSIOLOGI Kelas VIII

TUGAS  ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

SOSIOLOGI

SMP NEGERI 1 BANJARMASIN

 

Nama Kelompok:

1.As. Rosario Aprillia

2.Ellysa Rahmasanti

3.Ilma Nurhidayati

4.Nadya Hidayati

5.Riena Aprianti

6.Risky Hasbi Yudhi Azhari

7.Wiwin Nafisyah

 

HUBUNGAN SOSIAL

KELOMPOK 4

KELAS VIII-J

 

 

PENGERTIAN HUBUNGAN SOSIAL

Hubungan social adalah Suatu kegiatan yang menghubungkan kepentingan antarindividu, individu dengan kelompok atau antar kelompok yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat menciptakan rasa saling pengertian dan kerja sama yang cukup tinggi, keakraban, keramahan, serta menunjang tinggi persatuan dan kesatuan bangsa.
 Contoh hubungan sosial
Adalah gotong royong, kepekaan sosial.

BENTUK-BENTUK HUBUNGAN SOSIAL                                                   

 

 

Bentuk-bentuk social dibagi menjadi dua, yaitu:

1.Bentuk-bentuk hubungan social Asosiatif

Hubungan sosial asosiatif adalah proses interaksi yang cenderung menjalin kesatuan dan meningkatkan solidaritas anggota kelompok. Hubungan sosial asosiatif memiliki bentuk-bentuk berikut ini.

  1. a.      Kerja sama

Kerja sama dapat dilakukan paling sedikit oleh dua individu untuk mencapai suatu tujuan bersama. Di dalam mencapai tujuan bersama tersebut, pihak-pihak yang terlibat dalam kerja sama saling memahami kemampuan masingmasing dan saling membantu sehingga terjalin sinergi. Kerja sama dapat terjalin semakin kuat jika dalam melakukan kerja sama tersebut terdapat kekuatan dari luar yang mengancam. Ancaman dari pihak luar ini akan menumbuhkan semangat yang lebih besar karena selain para pelaku kerja sama akan berusaha mempertahankan eksistensinya, mereka juga sekaligus berupaya mencapai tujuan bersama.

Kerja sama dapat dibedakan atas beberapa bentuk, berikut ini:

1)      Kerukunan;

Merupakan bentuk kerja sama yang paling sederhana dan mudah diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Bentuk kerukunan, misalnya kegiatan gotong royong, musyawarah, dan tolong menolong. Contohnya gotongroyong membangun rumah, menolong
korban becana, musyawarah dalam memilih kepanitiaan suatu acara di lingkungan RT.

2)      Bargaining;

Merupakan bentuk kerja sama yang dihasilkan melalui proses tawar menawar atau kompromi antara dua pihak atau lebih untuk mencapai suatu kesepakatan. Bentuk kerja sama ini pada umumnya dilakukan di bidang perdagangan atau jasa. Contohnya kegiatan tawar menawar antara penjual dan pembeli dalam kegiatan perdagangan.

3)      Kooptasi (cooptation);

 Proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik suatu organisasi agar tidak terjadi keguncangan atau perpecahan di tubuh organisasi tersebut. Contohnya pemerintah akhirnya menyetujui penerapan hukum Islam di Nanggroe Aceh Darussalam yang semula masih pro kontra, untuk mencegah disintegrasi bangsa.

4)       Koalisi (coalition);

 Yaitu kombinasi antara dua pihak atau lebih yang bertujuan sama. Contohnya koalisi antara dua partai politik dalam mengusung tokoh yang dicalonkan dalam pilkada.

5)      Joint venture;

 Yaitu kerja sama antara pihak asing dengan pihak setempat dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu. Contohnya kerjasama antara PT Exxon mobil Co.LTD dengan PT Pertamina dalam mengelola proyek penambangan minyak di Blok Cepu.

  1. b.      Akomodasi;

Dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau sebagai suatu proses. Sebagai keadaan, akomodasi adalah suatu bentuk keseimbangan dalam interaksi antarindividu atau kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma sosial dan nilai sosial yang berlaku. Sebagai proses, akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan, yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan. Sebagai suatu proses, akomodasi mempunyai beberapa bentuk.

 Berikut ini bentuk-bentuk akomodasi:

1)      Koersi (coercion);

Suatu bentuk akomodasi yang dilaksanakan karena adanya paksaan, baik secara fisik (langsung) ataupun secara psikologis (tidak langsung). Di dalam hal ini, salah satu pihak berada pada kondisi yang lebih lemah. Contoh: Koersi secara fisik adalah perbudakan dan penjajahan, sedangkan koersi secara psikologis contohnya tekanan negara-negara donor (pemberi pinjaman) kepada negara-negara kreditor dalam pelaksanaan syarat-syarat pinjaman.

2)      Kompromi (compromize);

 suatu bentuk akomodasi di antara pihak-pihak yang terlibat untuk dapat saling mengurangi tuntutannya agar penyelesaian masalah yang terjadi dapat dilakukan. Contohnya perjanjian antara pemerintah Indonesia dengan gerakan separatis Aceh dalam hal menjaga stabilitas keamanan stabilitas keamanan di Aceh.

3)      Arbitrasi (arbitration);

 suatu cara mencapai kesepakatan yang dilakukan antara dua pihak yang bertikai dengan bantuan pihak ketiga. Pihak ketiga tersebut memiliki wewenang dalam penyelesaian sengketa dan biasanya merupakan suatu badan yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari pihak-pihak yang bertikai. Contohnya penyelesaian pertikaian antara buruh dengan pemilik perusahaan oleh Dinas Tenaga Kerja.

             4) Mediasi (mediation);

                 mediasi hampir sama dengan arbitrasi. Akan tetapi, dalam hal ini fungsi

                 pihak ketiga hanya sebagai penengah dan tidak memiliki wewenang dalam

                 penyelesaian sengketa. Contohnya mediasi yang dilakukan oleh pemerintah

                 Finlandia dalam penyelesaian konflik antara pemerintah Indonesia dengan

                 GAM.
            5) Konsiliasi (conciliation);

                yaitu usaha mempertemukan keinginan dari beberapa pihak yang sedang  

                berselisih demi tercapainya tujuan bersama. Contohnya konsultasi antara

            pengusaha angkutan dengan Dinas Lalu Lintas dalam penetapan tarif angkutan.
       6) Toleransi (tolerance);

           suatu bentuk akomodasi yang dilandasi sikap saling menghormati kepentingan

           sesama sehingga perselisihan dapat dicegah atau tidak terjadi. Dalam hal ini,

           toleransi timbul karena adanya kesadaran masingmasing individu yang tidak

          direncanakan. Contohnya toleransi antarumat beragama di Indonesia.
      7) Stalemate;

          suatu keadaan perselisihan yang berhenti pada tingkatan tertentu. Keadaan ini

          terjadi karena masing-masing pihak tidak dapat lagi maju ataupun mundur

          (seimbang). Hal ini menyebabkan masalah yang terjadi akan berlarut-larut tanpa

          ada penyelesaiannya. Contohnya perselisihan antara negara Amerika Serikat

          dengan negara Iran terkait dengan isu nuklir.
     8) Pengadilan (adjudication);

         merupakan bentuk penyelesaian perkara atau perselisihan di pengadilan oleh

         lembaga negara melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku. Contohnya

         penyelesaian kasus sengketa tanah di pengadilan.

c.  Asimilasi

    adalah proses sosial yang timbul apabila ada kelompok masyarakat dengan latar  

    belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara interaktif dalam jangka   

    waktu lama. Dengan demikian, lambat laun kebudayaan asli akan berubah sifat dan

    wujudnya menjadi kebudayaan baru yang merupakan perpaduan kebudayaan dan

    masyarakat dengan tidak lagi membeda-bedakan antara unsur budaya lama dengan  

    kebudayaan baru. Proses ini ditandai dengan adanya usaha mengurangi perbedaan

    yang ada.

    Proses asimilasi bisa timbul jika ada:
    1)  kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya;
    2)  orang perorangan sebagai anggota kelompok saling bergaul secara intensif,

         langsung, dan dalam jangka waktu yang lama;
    3)  kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah

        dan saling menyesuaikan. Contohnya perkawinan antarsuku sehingga terjadi

        pembauran dari kebudayaan masing-masing individu sehingga muncul  

        kebudayaan baru.

  1. d.      Akulturasi

adalah suatu keadaan diterimanya unsur-unsur budaya asing ke dalam kebudayaan sendiri. Diterimanya unsur-unsur budaya asing tersebut berjalan secara lambat dan disesuaikan dengan kebudayaan sendiri, sehingga kepribadian budaya sendiri tidak hilang. Contohnya akulturasi antara budaya Hindu dan Islam yang tampak pada seni arsitektur masjid Kudus .

2. Bentuk-Bentuk Hubungan Disosiatif

a. Persaingan adalah suatu proses sosial yang dilakukan oleh individu atau kelompok     dalam usahanya mencapai keuntungan tertentu tanpa adanya ancaman atau kekerasan dari para pelaku. Contohnya persaingan antarperusahaan telekomunikasi atau provider dalam menyediakan pelayanan tarif murah pulsa.

b. Kontravensi merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dengan pertentangan atau pertikaian. Kontravensi adalah sikap mental yang tersembunyi terhadap orang atau unsur-unsur budaya kelompok lain. Sikap tersembunyi tersebut dapat berubah menjadi kebencian, namun tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian. Bentuk kontravensi, misalnya berupa perbuatan menghalangi, menghasut, memfitnah, berkhianat, provokasi, dan intimidasi. Contohnya demontrasi yang dilakukan elemen masyarakat untuk menghalangi atau menolak kenaikan BBM

c. Pertentangan/Perselisihan adalah suatu proses sosial di mana individu atau kelompok menantang pihak lawan dengan ancaman dan atau kekerasan untuk mencapai suatu tujuan. Contohnya pertentangan antara golongan muda dengan golongan tua dalam menentukan waktu pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan RI pada tahun 1945.

FAKTOR-FAKTOR DALAM HUBUNGAN SOSIAL

A.Faktor-faktor eksternal

a. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

Jalannya pengaruh kebudayaan masyarakat lain, adalah sebagai berikut.

1) Difusi (penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari kelompok/golongan ke

    kelompok atau golongan lain dalam suatu masyarakat –difusi intra

    masyarakat–, atau dari suatu masyarakat ke masyarakat lain –difusi antar-

    masyarakat).

2) Kontak Kebudayaan (Akulturasi), terjadi ketika dua kelompok atau lebih

   dengan kebudayaan saling berbeda bertemu dan berinteraksi secara

   intensif kemudian di antara mereka terjadi saling menyerap/meminjam

   unsur kebudayaan.

Merembesnya unsur kebudayaan suatu masyarakat ke masyarakat lain

dapat berlangsung dengan berbagai cara:

a) Penetration of passifique (perembesan damai)

b) Penetratrion of violence (perembesan dengan kekerasan/paksaan)

c) Simbiotik (dua kelompok yang hidup berdampingan dan saling bertukar unsur   

    kebudayaan, Dapat berlangsung secara komensalistik, mutualistik, atau parasitistik).

Bagaimana berlangsungnya pengaruh kebudayaan itu kalau dihubungkan

dengan tingkat kemajuan kebudayaan masyarakat atau kelompok yang

terlibat?

a.)Apabila berlangsung di antara kelompok atau masyarakat yang

    berbeda tingkat kebudayaan, maka pengaruh akan mengalir dari

    masyarakat yang tingkat kemajuan kebudayaannya lebih tinggi,

    misalnya pengaruh kota ke desa

b).Apabila berlangsung di antara dua masyarakat dengan tingkat

    kemajuan kebudayaan yang sama, yang terjadi adalah cultural

    animocity (tidak saling bertukar kebudayaan), seperti antara

    masyarakat Yogyakarta dengan Surakarta.

c).Apabila kontak berlangsung di antara dua kelompok menggunakan

    media informasi dan komunikasi, pengaruh akan datang dari

    masyarakat yang menguasai media informasi dan komunikasi.

3) Asimilasi (pembauran atau perkawinan budaya), terjadi ketika dua atau

    lebih kelompok dengan kebudayaan berbeda, saling berinteraksi secara

    intensif sehingga terjadi pembauran atau peleburan di antara dua

    kelompok atau lebih tersebut membentuk kelompok baru.

b. Perang dengan negara lain

c. Perubahan lingkungan alam, misalnya karena terjadi bencana.

B.Faktor-faktor internal

a.  Perubahan aspek demografi (bertambah dan berkurangnya penduduk)

b.  Konflik antar-kelompok dalam masyarakat

c.  Terjadinya gerakan sosial dan/atau pemberontakan (revolusi)

d.  Penemuan-penemuan baru, meliputi:

o Discovery?

     Penemuan ide/alat/hal baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

o Invention?

     Penyempurnaan penemuan-penemuan pada discovery oleh individu atau

     serangkaian individu.

o Inovation?

     Diterapkannya ide/alat/hal baru, melengkapi atau menggantikan ide/alat/hal

     yang lama.

 

PERUBAHAN SOSIAL

 

1. Pengertian Perubahan Sosial

    Alvin L. Bertrand menyatakan bahwa perubahan sosial pada dasarnya tidak dapat diterangkan oleh dan berpegang teguh pada faktor yangtunggal. Menurut Robin Williams, bahwa pendapat dari faham diterminisme monofaktor kini sudah ketinggalan zaman, dan ilmu sosiologi modern tidak akan menggunakai interpretasi-interpretasi sepihak yang mengatakan bahwa perubahan itu hanya disebabkap oleh satu faktor saja.

Jadi jelaslah, bahwa perubahan yang terjadi pada masyarakat tersebut disebabkah

oleh banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi. Karenanya perubahan yang terjadi dalam masyarakat itu dikatakan berkaitan dengan hal yang kompleks.

Tentang perubahan sosial ini, beberapa sosiolog memberikan beberapa definisi yang

dapat membantu kita untuk lebih mudah memahami apa sebenarnya perubahan sosial

tersebut, adalah sebagai berikut :

1. Kingsley Davis, mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang

    terjadi dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan-perubahan dalarfl

    hubungan antara buruh dan majikan dan seterusnya menyebabkan perubahan

    perubahan dalam organiasasi ekonomi dan politik.

2. Mac Iver mengemukakan bahwa perubahan-perubahan sosial sebagai perubahan!-

    perubahan dalam hubungan sosial (sosial relationships) atau sebagai perubahan

    terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial.

3. Gillin dan Gillin mengatakan perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dai i

    cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi

    geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena  

    adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.

4. Selo Soemardjan-merumuskannya sebagai segala perubahan-perubahan pada lem-

    baga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi  

    system sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola prilaku di antara

    kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan

perubahan yang terjadi pada masyarakat yang mencakup perubahan dalam aspek-aspek struktur dari suatu masyarakat, ataupun karena terjadinya perubahan dari faktor lingkungan, karena berubahnya komposisi penduduk, keadaan geografis, serta berubahnya system hubungan sosial, maupun perubahan pada lembaga kemasyarakatannya.

2. Bentuk Perubahan Sosial

Pada sub bab di atas telah disinggung, bahwa setiap masyarakat tidak akan memilik

perubahan yang sama, dikarenakan ada yang mengalami perubahan dengan cepat

lambat, ataupun perubahan yang besar maupun yang kecil. Hal tersebut merupakan bentuk perubahan sosial. Perubahan sosial dapat dibedakan dalam beberapa bentuk yaitu :

 

A.Perubahan yang cepat dan perubahan yang lambat.

Perubahan sosial yang berlangsung dengan cepat, pada umumnya disebut dengan

revolusi. Hal yang pokok dari revolusi adalah terdapatnya perubahan yang terjadi de-

ngan cepat, disamping itu perubahan tersebut menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi

pokok dari kehidupan manusia. Perubahan yang terjadi secara revolusi dapat direncanakan terlebih dahulu ataupun tidak direncanakan. Perubahan yang terjadi secara revolusi, sebenarnya kecepatan berlangsungnya perubahan adalah relatif, dikarenakan ada suatu revolusi yang berlangsung lama. Misal, Revolusi Industri di Inggris yaitu perubahan-perubahan yang terjadi dari proses produksi tanpa mesin, hingga proses produksi menggunakan mesin. Perubahan seperti ini dianggap perubahan yang cepat, karena mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat, yaitu adanya sistem hubungan antara buruh dan majikan.

Dapat dikatakan telah terjadi suatu revolusi, bila telah memenuhi beberapa syarat

yang meliputi:

a. Harus ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan. Di dalam masya-

    rakat harus ada perasaan tidak puas terhadap keadaan, dan harus ada suatu  

    keinginan untuk mencapai perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.

b. Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu me-

    mimpin masyarakat tersebut.

c. Pemimpin mana dapat menampung keinginan-keinginan masyarakat untuk ke-

    mudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas tadi menjadi program dan

    arah gerakan.

d. Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat. Artinya

    adalah bahwa tujuan tersebut terutama sifatnya kongkrit dan dapat dilihat oleh

    masyarakat. Di samping itu diperlukan juga suatu tujuan yang abstrak, misalnya

    perumusan suatu ideologi tertentu.

e. Harus ada momentum, yaitu saat dimana segala keadaan dan faktor sudah tepat dan

   baik untuk memulai suatu gerakan. Apabila momentum keliru maka revolusi dapat

   gagal, contoh, Proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan revolusi yang mo-

   mentumnya amat tepat.

B. Perubahan Yang Besar dan Perubahan Yang kecil

 

Perubahan sosial yang besar pada umumnya adalah perubahan yang akan membawa

pengaruh yang besar pada masyarakat. Misalnya terjadinya proses industrialisasi pada

masyarakat yang masih agraris. Di sini lembaga-lembaga kemasyarakatan akan terkena pengaruhnya, yakni hubungan kerja, sistem pemilikan tanah, klasifikasi masyarakat, dan yang lainnya.

Sedangkan perubahan sosial yang kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi j

pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa akibat yang langsung pada masyarakat. Misalnya, perubahan bentuk potongan rambut, tidak akan membawa pengaruhi yang berarti bagi masyarakat secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan tidak akan menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.

C. Perubahan Yang Direncanakan Dan Yang Tidak Direncanakan

Perubahan yang direncanakan adalah, perubahan yang terjadi di dalam masyarakat, j

dan hal ini terjadi karena telah direncanakan terlebih dahulu oleh fihak-fihak yang menginginkan adanya perubahan. Fihak yang menginginkan adanya perubahan itu disebut dengan agent of change atau agen pembaharu. Agent of change, adalah seorang atau sekelompok orang yang memimpin masyarakat dalam merubah sistem sosial yang ada. Tentunya agent of change ini sudah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk memimpin adanya suatu perubahan. Agent of change selalu mengawasi jalannya perubahan yang dikehendaki atau direncanakan itu.

Sedangkan perubahan sosial yang tidak direncanakan adalah terjadinya perubahan-

perubahan yang tidak direncanakan atau dikehendaki, dan terjadi diluar pengawasan

masyarakat dan dapat menimbulkan akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan masya-

rakat. Misalnya, terjadinya musim kemarau yang berkepanjangan dan berakibat sulitnya mendapatkan penghasilan yang cukup hingga membuat banyak anggota masyarakat nekat melakukan tindakan-tindakan kriminal, hanya agar dapat memenuhi kelangsungan hidupnya.

Perubahan yang dikehendaki dapat timbul sebagai suatu reaksi terhadap perubahan-

perubahan sosial dan kebudayaan yang terjadi pada waktu sebelumnya, baik itu merupakan perubahan yang direncanakan ataupun tidak direncanakan. Terjadinya suatu perubahan yang direncanakan, maka perubahan berikutnya merupakan perkembangan selanjutnya, hingga merupakan suatu proses. Tetapi, bila sebelumnya telah terjadi perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki, maka perubahan yang dikehendaki dapat dianggap sebagai pengakuan terhadap perubahan-perubahan sebelumnya, hingga dapat diterima oleh masyarakat luas.

3. Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Sosial

Perubahan sosial terjadi karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-

faktor tersebut berasal dari dalam maupun dari luar masyarakat itu sendiri. Faktor penyebab yang berasal dari dalam meliputi :

a. Bertambah atau berkurangnya penduduk.

b. Penemuan-penemuan baru.

c. Pertentangan (Conflict) masyarakat.

d. Terjadinya Pemberontakan atau Revolusi

Sedangkan fakor penyebab terjadinya perubahan sosial yang berasal dari luar masyai –

akat, meliputi:

a. Lingkungan alam fisik yang ada disekitar manusia.

b. Terjadinya Perang

c. Pengaruh kebudayaan asing

Adanya pengaruh kebudayaan asing ini akan dapat mempengaruhi terjadi

perubahan-perubahan pada masyarakat yang kena pengaruhnya. Terdapatnya hubung an secara fisik antara kebudayaan dua masyarakat akan mengakibatkan pengarul i

timbal-balik. Jadi biasanya setiap kebudayaan masyarakat akan mempengaruhi

masyarakat lainnya, tetapi juga dapat menerima pengaruh kebudayaan dari masyar-

akat yang lain pula. Adanya proses penerimaan pengaruh kebudayaan asing ini

disebut dengan akulturasi.

4. Faktor Pendorong Proses Perubahan

 

    Terjadinya suatu proses perubahan pada masyarakat, diakibatkan adanya factor- faktor yang mendorongnya, hingga menyebabkan timbulnya perubahan. Faktor pendorong tersebut menurut Soerjono Soekanto meliputi :

a. Kontak dengan kebudayaan lain.

   Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffusion. Difusi adalah prosei.

penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu kepada individu lain. Dengan

proses tersebut manusia mampu untuk menghimpun penemuan-penemuan baru yang

telah dihasilkan. Dengan terjadinya difusi, suatu penemuan baru yang telah diterima

oleh masyarakat dapat diteruskan dan disebar luaskan kepada semua masyarakat,

hingga seluruh masyarakat dapat merasakan manfaatnya.

   Proses difusi dapat menyebabkan lancarnya proses perubahan, karena difusi mem-

perkaya dan menambah unsur-unsur kebudayaan yang seringkah memerlukan pe-

rubahan-perubahan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan, yang lama dengan

yang baru.

b. Sistem pendidikan formal yang maju.

   Pada dasarnya pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi individu, untuk mem-

berikan wawasan serta menerima hal-hal baru, juga memberikan bagaimana caranya

dapat berfikir secara ilmiah. Pendidikan juga mengajarkan kepada individu untuk

dapat berfikir secara obyektif. Hal seperti ini akan dapat membantu setiap manusia

untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan dapat memenuhi kebutuhan

zaman atau tidak.

c. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan keinginan untuk maju.

   Bila sikap seperti itu telah dikenal secara luas oleh masyarakat, maka masyarakat

akan dapat menjadi pendorong bagi terjadinya penemuan-penemuan baru. Contohnya,

hadiah nobel, menjadi pendorong untuk melahirkan karya-karya yang belum pernah

dibuat.

d. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation).

   Adanya toleransi tersebut berakibat perbuatan-perbuatan yang menyimpang itu akan

melembaga, dan akhirnya dapat menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan

oleh masyarakat.

e. Sistem terbuka pada lapisan masyarakat.

   Adanya sistem yang terbuka di dalam lapisan masyarakat akan dapat menimbulkan

terdapatnya gerak sosial vertikal yang luas atau berarti memberi kesempatan kepada

para individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri. Hal seperti ini akan berakibat

seseorang mengadakan identifikasidengan orang-orang yang memiliki status yang

lebih tinggi. Identifikasi adalah suatu tingkah laku dari seseorang, hingga orang

tersebut merasa memiliki kedudukan yang sama dengan orang yang dianggapnya

memilki golongan yang lebih tinggi. Hal ini dilakukannya agar ia dapat diperlakukan

sama dengan orang yang dianggapnya memiliki status yang tinggi tersebut.

f. Adanya penduduk yang heterogen.

  Terdapatnya penduduk yang memiliki latar belakang kelompok-kelompok sosial yang berbeda-beda, misalnya, ideologi, ras yang berbeda, akan mudah menyulut terjadinya konflik. Terjadinya konflik ini dapat menjadi pendorong perubahan-perubahan sosial di dalam masyarakat.

g. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.

  Terjadinya ketidakpuasan dalam masyarakat, dan berlangsung dalam waktu yang

panjang, juga akan mengakibatkan revolusi dalam kehidupan masyarakat.

h. Adanya Orientasi ke masa depan.

  Terdapatnya pemikiran-pemikiran yang mengutamakan masa-masa yang akari

datang, dapat berakibat mulai terjadi atau munculnya perubahan perubahan dalamj

sistem sosial yang ada. Karena apa yang dilakukan harus diorientasikan padai

perubahan di masa yang akan datang.

     Kesemua faktor yang mendorong terjadinya perubahan-perubahan tersebut pada

umumnya dialami oleh semua masyarakat yang menginginkan adanya hal-hal yang baru dan tentunya berharap perubahan tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat umum secara luas.

5. Faktor Penghalang Proses Perubahan

Di dalam proses perubahan tidak selalu hanya ada faktor pendorong saja tetapi juga,

ada faktor-faktor yang menghalangi terjadinya proses perubahan tersebut.

Faktor penghalang tersebut antara lain:

a. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.

b. Sikap masyarakat yang tradisional.

c. Adanya kepentingan yang telah tertanam dengan kuatnya. (Vested Interest).

d. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.

e. Adanya prasangka (buruk) terhadap hal-hal baru.

f. Adanya hambatan yang bersifat ideologis.

g. Adat atau kebiasaan.

     Biasanya pola perilaku yang sudah menjadi adat bagi suatu masyarakat akan selalu

dipatuhi dan dijalankan dengan baik. Dan apabila pola perilaku yang sudah menjadi

adat tersebut sudah tidak tepat lagi digunakan, maka akan sulit untuk merubahnya.

Karena masyarakat tersebut akan mempertahankan adat, yang dianggapnya telah

membawa akibat-akibat yang baik bagi pendahulu-pendahulunya.

   Faktor-faktor yang menghalangi terjadinya proses perubahan tersebut, secara umum

memang akan merugikan masyarakat itu sendiri.Karena setiap anggota dari suatu masyarakat pada umumnya memiliki keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari pada yang sudah didapatnya. Hal tersebut tidak akan diperolehnya jika masyarakat tersebut tidak mendapatkan adanya perubahan perubahan atau hal-hal yang baru.

   Faktor penghambat dari proses perubahan sosial ini, oleh Margono Slamet dikata-

kannya sebagai kekuatan pengganggu atau kekuatan bertahan yang ada di dalam masyarakat. Kekuatan bertahan adalah kekuatan yang bersumber dari bagian-bagian masyarakat yang:

a. Menentang segala macam bentuk perubahan. Biasanya golongan yang paling rendah

    dalam masyarakat selalu menolak perubahan, karena mereka memerlukan kepastian

    untuk hari esok. Mereka tidak yakin bahwa perubahan akan membawa perubahan

    untuk hari esok.

b. Menentang tipe perubahan tertentu saja, misalnya ada golongan yang menentang

    pelaksanaan keluarga berencana saja, akan tetapi tidak menentang pembangunan-

    pembangunan lainnya.

c. Sudah puas dengan keadaan yang ada.

d. Beranggapan bahwa sumber perubahan tersebut tidak tepat.

e. Kekurangan atau tidak tersedianya sumber daya yang diperlukan untuk

    melaksanakah perubahan yang diinginkan.

   Hambatan tersebut selain dari kekuatan yang bertahan, juga terdapat kekuatab

pengganggu. Kekuatan pengganggu ini bersumber dari:

a.Kekuatan-kekuatan di dalam masyarakat yang bersaing untuk memperoleh  

   dukungan seluruh masyarakat dalam proses pembangunan. Hal ini dapat

   menimbulka perpecahan, yang dapat mengganggu pelaksanaan pembangunan.

b.Kesulitan atau kekompleksan perubahan yang berakibat lambatnya penerimaan

    masyarakat terhadap perubahan yang akan dilakukan. Perbaikan gizi, keluarga be-

    rencana, konservasi hutan dan lain-lain, adalah beberapa contoh dari bagian itu. ‘

c. Kekurangan sumber daya yang diperlukan dalam bentuk:

     – kekurangan pengetahuan

     – tenaga ahli

     – ketrampilan

     – pengertian

     – biaya

     – sarana, dan lain-lain.

6. Ringkasan

RINGKASAN

1. Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat yan

    mencakup perubahan dalam aspek-aspek struktur dari suatu masyarakat,

    terjadinya perubahan dari faktor lingkungan, dikarenakan berubahnya sistem kom-

    posisi penduduk, keadaan geografis, serta berubahnya sistem hubungan sosial,

    maupun perubahan pada lembaga kemasyarakatannya.

2. Bentuk perubahan sosial terdapat dalam 3 jenis yaitu:

    – Perubahan yang cepat dan perubahan yang lambat.

    – Perubahan yang besar dan perubahan yang kecil.

    – Perubahan yang direncanakan dan perubahan yang tidak direncanakan.

3. Ada 2 faktor penyebab terjadinya perubahan sosial yaitu:

   – Perubahan dari dalam masyarakat itu sendiri yang meliputi:

a. Bertambah atau berkurangnya penduduk.

b. Adanya penemuan-penemuan baru.

c. Adanya pertentangan (conflict) masyarakat.

d. Terjadinya pemberontakan atau revolusi.

   – Perubahan dari luar masyarakat itu sendiri.

a. Lingkungan alam fisik yang ada disekitar manusia.

b. Perjadinya perang.

c. Adanya pengaruh kebudayaan asing.

4. Di dalam proses perubahan sosial juga ada faktor-faktor yang mendorong.

    Faktor tersebut meliputi:

a. Adanya kontak dengan kebudayaan lain.

b. Adanya sistem pendidikan formal yang maju.

c. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju.

d. Adanya toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang.

e. Sistem terbuka pada lapisan masyarakat.

f. Adanya penduduk yang heterogen.

g. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu,

h. Adanya orientasi ke masa depan.

5. Faktor yang menghalangi proses perubahan sosial meliputi:

a. Adanya perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.

b. Adanya sikap masyarakat yang tradisional.

c. Adanya kepentingan yang telah tertanam dengan kuat.

d. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.

e. Adanya prasangka terhadap hal-hal yang baru.

f. Adanya hambatan yang bersifat ideologis.

g. Terdapatnya adat atau kebiasaan

 

 

Prilaku Hubungan Sosial dan Solidaritas Antar Teman pada Prilaku Gaya Hidup Remaja

Pada masa remaja, terdapat banyak hal baru yang terjadi, dan biasanya lebih bersifat menggairahkan, karena hal baru yang mereka alami merupakan tanda-tanda menuju kedewasaan. Dari masalah yang timbul akibat pergaulan, keingin tahuan tentang asmara dan seks, hingga masalah-masalah yang bergesekan dengan hukum dan tatanan sosial yang berlaku di sekitar remaja.

     Hal-hal yang terakhir ini biasanya terjadi karena banyak faktor, tetapi berdasarkan penelitian, jumlah yang terbesar adalah karena “tingginya” rasa solidaritas antar teman, pengakuan kelompok, atau ajang penunjukkan identitas diri. Masalah akan timbul pada saat remaja salah memilih arah dalam berkelompok.
 
    Banyak ahli psikologi yang menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa yang penuh masalah, penuh gejolak, penuh risiko (secara psikologis), over energi, dan lain sebagainya, yang disebabkan oleh aktifnya hormon-hormon tertentu. Tetapi statement yang timbul akibat pernyataan yang stereotype dengan pernyataan diatas, membuat remaja pun merasa bahwa apa yang terjadi, apa yang mereka lakukan adalah suatu hal yang biasa dan wajar.

   Minat untuk berkelompok menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang remaja alami. Yang dimaksud di sini bukan sekadar kelompok biasa, melainkan sebuah kelompok yang memiliki kekhasan orientasi, nilai-nilai, norma, dan kesepakatan yang secara khusus hanya berlaku dalam kelompok tersebut. Atau yang biasa disebut geng. Biasanya kelompok semacam ini memiliki usia sebaya atau bisa juga disebut peer group.

   Demi kawan yang menjadi anggota kelompok ini, remaja bisa melakukan dan mengorbankan apa pun, dengan satu tujuan, Solidaritas. Geng, menjadi suatu wadah yang luar biasa apabila bisa mengarah terhadap hal yang positif. Tetapi terkadang solidaritas menjadi hal yang bersifat semu, buta dan destruktif, yang pada akhirnya merusak arti dari solidaritas itu sendiri.

   Demi alasan solidaritas, sebuah geng sering kali memberikan tantangan atau tekanan- tekanan kepada anggota kelompoknya (peer pressure) yang terkadang berlawanan dengan hukum atau tatanan sosial yang ada. Tekanan itu bisa saja berupa paksaan untuk menggunakan narkoba, mencium pacar, melakukan hubungan seks, melakukan penodongan, bolos sekolah, tawuran, merokok, corat-coret tembok, dan masih banyak lagi.

   Secara individual, remaja sering merasa tidak nyaman dalam melakukan apa yang dituntutkan pada dirinya. Namun, karena besarnya tekanan atau besarnya keinginan untuk diakui, ketidak berdayaan untuk meninggalkan kelompok, dan ketidak mampuan untuk mengatakan “tidak”, membuat segala tuntutan yang diberikan kelompok secara terpaksa dilakukan. Lama kelamaan prilaku ini menjadi kebiasaan, dan melekat sebagai suatu karakter yang diwujudkan dalam berbagai prilaku negatif.

    Kelompok atau teman sebaya memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menentukan arah hidup remaja. Jika remaja berada dalam lingkungan pergaulan yang penuh dengan “energi negatif” seperti yang terurai di atas, segala bentuk sikap, perilaku, dan tujuan hidup remaja menjadi negatif. Sebaliknya, jika remaja berada dalam lingkungan pergaulan yang selalu menyebarkan “energi positif”, yaitu sebuah kelompok yang selalu memberikan motivasi, dukungan, dan peluang untuk mengaktualisasikan diri secara positif kepada semua anggotanya, remaja juga akan memiliki sikap yang positif. Prinsipnya, perilaku kelompok itu bersifat menular.

   Motivasi dalam kelompok (peer motivation) adalah salah satu contoh energi yang memiliki kekuatan luar biasa, yang cenderung melatarbelakangi apa pun yang remaja lakukan. Dalam konteks motivasi yang positif, seandainya ini menjadi sebuah budaya dalam geng, barangkali tidak akan ada lagi kata-kata “kenakalan remaja” yang dialamatkan kepada remaja. Lembaga pemasyarakatan juga tidak akan lagi dipenuhi oleh penghuni berusia produktif, dan di negeri tercinta ini akan semakin banyak orang sukses berusia muda. Remaja juga tidak perlu lagi merasakan peer pressure, yang bisa membuat mereka stres.

   Secara teori diatas, remaja akan menjadi pribadi yang diinginkan masyarakat. Tetapi tentu saja hal ini tidak dapat hanya dibebankan pada kelompok ataupun geng yang dimiliki remaja. Karena remaja merupakan individu yang bebas dan masing-masing tentu memiliki keunikan karakter bawaan dari keluarga. Banyak faktor yang juga dapat memicu hal buruk terjadi pada remaja.

  Seperti yang telah diuraikan diatas, kelompok remaja merupakan sekelompok remaja dengan nilai, keinginan dan nasib yang sama. Contoh, banyak sorotan yang dilakukan publik terhadap kelompok remaja yang merupakan kumpulan anak dari keluarga broken home. Kekerasan yang telah mereka alami sejak masa kecil, trauma mendalam dari perpecahan keluarga, akan kembali menjadi pencetus kenakalan dan kebrutalan remaja.

Semoga bermanfa’at ya….

Tugas dulu SMP, hahaha 😀 jadi kangen ;(

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s